Bali Dipuja karena Keindahannya, Sampahnya Siapa yang Mau Bereskan?

Bali Dipuja karena Keindahannya, Sampahnya Siapa yang Mau Bereskan?

Bali dikenal dunia karena pantai yang indah, budaya yang khas, dan kawasan wisata yang menarik jutaan pengunjung. Namun, di balik citra sebagai destinasi unggulan, persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menjaga penampilan kawasan wisata. Pengelolaan sampah di Bali, khususnya di Denpasar dan Badung, menghadapi tantangan serius seiring tingginya volume sampah dan keterbatasan tempat pemrosesan akhir. Ironisnya, pulau yang menjadi kebanggaan pariwisata Indonesia ini tetap harus berhadapan dengan persoalan mendasar: sampah yang dihasilkan setiap hari harus dibawa ke mana dan siapa yang bertanggung jawab mengelolanya?

Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah kondisi TPA Suwung di Denpasar. Sejak 1 April 2026, tempat tersebut tidak lagi menerima sampah organik dan diarahkan untuk menerima sampah anorganik serta residu sesuai kebijakan yang diberlakukan. Namun, laporan Bali Post pada 30 September 2026 menyebut sampah yang masih tercampur ditemukan masuk ke TPA, meskipun pengaturan pembuangan berdasarkan jenisnya telah diterapkan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa aturan saja belum cukup apabila pemilahan dari rumah tangga, kesiapan fasilitas pengolahan, dan pengawasan di lapangan belum berjalan secara konsisten.

Dampak persoalan sampah tidak berhenti pada pemandangan yang kurang sedap dipandang wisatawan. Sampah yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan bau, menghasilkan air lindi yang mencemari lingkungan, serta meningkatkan risiko pembentukan gas metana dari timbunan sampah organik. Warga yang tinggal di sekitar titik penumpukan sampah juga dapat menghadapi gangguan kenyamanan dan kualitas lingkungan. Karena itu, menjaga kebersihan Bali bukan semata-mata urusan mempertahankan citra pariwisata, melainkan juga berkaitan langsung dengan kualitas hidup masyarakat yang tinggal dan bekerja di pulau tersebut.

Pemerintah telah menempuh sejumlah langkah, termasuk mendorong pemilahan sampah dari sumbernya dan memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Pedungan, Denpasar Selatan, pada Juli 2026. Fasilitas ini direncanakan menjadi bagian dari solusi jangka panjang, tetapi pembangunan teknologi tidak serta-merta menghapus kebutuhan untuk mengurangi dan memilah sampah sejak awal. Pemerintah daerah, pelaku usaha, pengelola pariwisata, dan masyarakat perlu menjalankan perannya secara konsisten. Sebab, Bali tidak cukup hanya terlihat indah di foto promosi dan unggahan media sosial. Jika keindahannya ingin terus dinikmati, pengelolaan sampah harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan sekadar slogan yang terdengar bagus saat pariwisata sedang dibanggakan.


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/bali-dipuja-karena-keindahannya-sampahnya-siapa-yang-mau-bereskan

0 Comments

Newest